Menikah

 "menikah itu tentang kerja sama, menikah itu tentang komunikasi, menikah itu tentang bagaimana kita menjalani dan memahami peran masing-masing, menikah itu tentang sampai dimana kita bisa memberikan pembuktian cinta kita pada sang pemilik hati dan terus berprasangka baik pada perjalanannya"

Banyak diluar sana yang berharap pernikahan seperti dalam drama korea, sebuah pernikahan yang sempurna. Apalah kita berharap kesempurnaan di dunia yang tidak sempurna ini teman-teman?

Tidak sedikit kita saksikan berbagai macam gambaran pernikahan yang pada akhirnya berujung usai. Apalagi sekarang, saat media sosial dengan mudahnya memberikan kita akses informasi yang seharusnya tidak perlu kita ketahui. It was me too, yang khawatir karena terlalu banyak terekspose informasi menakutkan tentang pernikahan, sampai pada pertanyaan, siapa orang yang bisa aku percaya untuk bisa ada disampingku sampai tua nanti?

Hari-hari bersama ketakutan dan prasangka baik pada Allah.

Rasa takut itu luar biasa memberikan aku energi untuk mau belajar dan memaksakan diri untuk mencari bekal.. sebelum akhirnya menikah, aku usahakan mencari tau, belajar, ngobrol dengan banyak pasangan yang sudah lebih lama menikah, mendengarkan dan meminta nasihat, sejauh apa gambaran pernikahan yang mereka bayangkan dengan kenyataannya? Karena rasanya ilmuku sangat nol perihal pernikahan.

jauh hari sebelum orangnya Allah hadirkan, aku coba belajar, banyaaaak sekali hal (yang walaupun sampai saat ini rasanya masih tertatih-tatih untuk belajar) yang berujung pada kesimpulan untuk lebih banyak kenal diri dulu ketimbang mempelajari soal pernikahan itu sendiri. Allah baik sekali dengan banyak menjerumuskan aku ke dalam circle-circle yang menyadarkan aku bahwa pernikahan itu tidak mudah, lah wong ibadah seumur hidup? masa mudah?

di sisi satunya pula Allah mudahkan aku mendapat banyak pandangan baru terkait indahnya menikah dengan tujuan yang sama. Meminta wejangan pada yang pastinya sudah melewati bahtera rumah tangga lebih dulu, belajar dari pengalaman orang lain dan mencari tau “apa yang aku inginkan dari pernikahanku sendiri?”

siapa sangka, suamiku hari ini adalah wujud dari prasangka-prasangka baik yang aku pupuk sekian tahun lamanya pada Allah. Aku percaya Allah memberikan aku teman baik suatu hari nanti. Teman baik yang nada bicaranya lembut tidak tinggi, yang lingkungan dan cara bergaulnya terjaga, yang paham akan perannya sebagai suami dan kepala keluarga, kalaupun belum, aku berharap dia mau untuk belajar, yang mau diajak diskusi banyak hal penting dan tidak penting dalam kepalaku, yang mau mendengarkan tanpa menghakimi, yang berusaha menjaga kesehatannya walau masih berusaha, yang tau masih punya banyak keterbatasan tapi mau berusaha untuk memperbaiki, yang tau bagaimana cara menyayangi dengan caranya sendiri. Satu lagi, yang mampu membimbing aku untuk bersama-sama menuju surga-Nya.

Setelah melewati prosesnya, ternyata benar, menikah itu tentang kerjasama, tentang menjalankan peran sesuai dengan fitrahnya masing-masing, laki-laki sebagai suami dan perempuan sebagai istri. Suami menjadi kepala keluarga yang mengambil tanggung jawab atas istrinya dan istri menjadi rumah yang menenangkan bagi suaminya.

Pasti tidak ada yang mudah dari setiap pernikahan, tp semua bisa diusahakan. Meluangkan waktu diluar rutinitas masing-masing, menghargai suami atas keputusan yang dia ambil untuk memberikan dia ruang untuk menjadi seorang kepala keluarga, menurunkan ego sebagai perempuan untuk bisa taat dan mau dibimbing, semua pastinya tidak mudah. Tidak ada laki-laki yang setelah menikah tbtb jreeng jadi tau harus seperti apa menjalankan perannya jadi suami. begitupun sebaliknya. Keduanya mesti sama-sama sadar bahwa keduanya punya peran penting dalam mendukung satu sama lain menjalankan perannya sebagai pasangan, teman, suami maupun istri dan semua itu perlu proses. Tidak ada manusia yang sempurna, terlebih pula suami dan istri. Prosesnya perlu dibersamai dengan sabar dan syukur yang tiada henti.

Terlihat sekali bahasan pernikahan ini berat ya? Hehe tapi setelah 1 tahunpun jawabanku tentang bagaimana pernikahan masih sama, "seruuu". Menikah tentunya penuh dinamika, banyak perdebatan, kompromi, keluasan hati untuk sama-sama mau mendengarkan dan menerima satu sama lain, ditambah sebelum menikah masing-masing sudah hidup sendiri sekian tahun lamanya dengan lingkungan yang berbeda. Disanalah serunya, kita jadi bisa lebih banyak menghargai dan menerima perbedaan.

kalau sebelum menikah kita masih bisa memilih-milih kriteria pasangan semau kita, setelah menikah kita harus bisa menerima apa yang ada pada pasangan yang ditakdirkan untuk kita, kelebihan dan kekurangannya. I'll said it wasn't easy, tapi disana pahalanya. Semoga Allah selalu lembutkan hati kami untuk sama-sama mengarungi bahtera rumah tangga ini, sampai ke surga-Nya kelak.

suamiku mungkin bukan yang paling sempurna dari sosok jodoh yang aku bayangkan, tapi siapalah aku yang mengharapkan kesempurnaan di dunia yang tidak sempurna ini, bercermin pada diri yang juga masih banyak kurangnya, semoga kami bisa berjalan beriringan. Seberat apapun perjalanannya di depan, mari kita sisakan ruang bagi sabar dan syukur agar Allah meridhoi perjalanan ibadah terpanjang ini. Mohon doanya ya teman-teman.

Tidak ada pasangan yang sempurna, yang ada itu pasangan yang saling menyempurnakan💙

23.09.23

------

pernah di tulis di akhir tahun 2023 dan 2024, dirampungkan semalam krn suami inget aku punya draft ini tp dipendem trus. Dengan bantuan koreksi dan revisi akhirnya tulisan ini rilis setelah tulisan terakhir di tahun 2022. Selain untuk diri kami sendiri, semoga ada pelajaran dan reminder yang bisa temen-temen ambil dari tulisan ini ya, siapapun yang Allah takdirkan mampir dan membaca halaman ini. Wallahu a'lam bishawab.




Comments

Anonymous said…
Thank you for sharing!
Anonymous said…
keep writing
Deb said…
Thank you🥹🙏🏻

Popular posts from this blog

Setelah 25

Tips dan Trik SBMPTN dari Pengalamanku lolos Psikologi Universitas Indonesia